Dulu saat hiroshima dan nagasaki luluh lantak.
Sang Kaisar bertanya, berapa orang guru yang masih hidup?
Ya, yang ia tanya adalah guru. Bukan jendral atau tentara.
Bukan juga jumlah persenjataan yang tersisa.
Dan dialah guru. Tombak utama dalam pendidikan.
Terbukti, 30 tahun kemudian sang pecundang Perang dunia
telah jadi macan Asia.
Mari belajar. Menjadi bangsa yang menghargai pendidikan.
Menghargai Guru.
Bangsa ini harusnya malu.
Padanya kita titipkan masa depan anak bangsa.
Tapi tak peduli bagaimana nasib para guru.
Tak usah pergi jauh ke pelosok, cukup tengok di pinggiran
kota.
Jika ada guru yang berpuluh tahun mengabdi,
Tapi tak berdaya menjadikan anaknya sarjana,
Atau tak bisa menjamin kesehatan keluarganya.
Bahkan tak mampu mencukupi biaya hidupnya.
Memang, Tanggung jawab pemerintahlah seharusnya .
Tapi kita yang terdidik juga punya peran besar.
Hormatilah ia dalam bermasyarakat.
Karna, segala prestasi dari semua profesi adalah hasil
didikannya.
Dan Untukmu, rekan
dan calon pendidik.
Jalan mulia inilah yang telah kau pilih.
Demi melunasi sebuah janji pada ibu pertiwi.
Mencerdaskan kehidupan bangsa ini.
Berhentilah menjadi guru yang “sekedar.”
Sekedar memindahkan kurikulum, pada kepala anak didikmu
Jadilah inspirasi.
Di ruang kelasmu-lah wajah masa depan Indonesia.
Tak perlu jadi guru yang berebut sertifikasi,
jika hanya berujung pada
tumpukan berkas dan gelar tanpa bekas
Tak usah kau konversikan jasamu sebatas bilangan rupiah.
Sungguh, bangsa ini berhutang budi besar
Pada guru yang mendidik sepenuh hati.
Cukup cium tangan tanda takzim
Juga binar mata anak didikmu yang tercerahkan.
Jadi penghargaan yang
tak ternilai bagimu.
Karna sekali lagi, kaulah inspirasi.
Dan Dari tiap huruf yang terbaca saat ini.
Hingga sampai diajarkan kembali pada anak didik kami
Terpatri jelas .
Sungguh.
Terima kasih,
Jasamulah
yang berarti.
Selamat hari guru, seluruh guru Indonesia.
Jakarta, -disebelah
ruang kelas-, 25 november 2014.
-Terinspirasi dari essay pak Anies Baswedan-
.jpg)
.jpg)



